Kendala sosial dan teknis dalam proyek transmisi listrik   Leave a comment

Dalam pekerjaan proyek transmisi ada beberapa yang mungkin dihadapi dan harus ada solusi atau di antisipasi sehingga aktivitas ataupun progress pekerjaan menjadi berhenti (idle) atau lambat (delay). Berikut ini adalah pengalaman penulis dalam mengerjakan berbagai proyek transmisi:

Isu sosial yang umum ditemukan dalam Proyek Jalur Transmisi yang menyebabkan terhentinya/terlambatnya kegiatan konstruksi:

  1. Jalur transmisi tidak boleh dilalui akibat adanya isu tentang bahaya pelintasan jalur listrik tegangan tinggi(SUTET) dan isu radiasi listrik terhadap kesehatan manusia. Dan umumnya disikapi dengan minta ganti rugi / kompensasi sepanjang jalur, pemintaan pemindahan jalur. Juga dalam bentuk aksi ancaman, demo warga dibawah jalur
  2. Akses masuk kelokasi tower dilarang oleh warga akibat belum dibayarnya atau kesalahan dalam pembayaran lahan tapak tower, tanaman pada tapak tower, pengurusan izin-izin yang belum disahkan oleh pihak yang berwenang seperti PERUMKA, PEMDA, Dan sertifikat kepemilikan tanah yang belum dikembalikan ke pemilik.
  3. Kompensasi / ganti rugi tanaman akibat pemotongan, kerusakan jalan masuk akibat kendaraan berat diluar batas wajar, kerusakan akibat pekerjaan yang menimpa fasilitas umum milik/properti warga masyarakat, pelarangan kendaraan untuk mengangkut material kelokasi proyek.
  4. Premanisme, pencurian material, mel-mel, pemerasan, upeti kepada warga setempat, provokasi buruk oleh warga, sumbangan yang dipaksakan kepada kontraktor
  5. Hutang oleh pemborong yang belum dilunasi sehingga pekerjaan lanjutannya tidak dapat dikerjakan terutama utang makan di warung, kos, toko material bangunan
  6. Meminta dengan paksa untuk pekerjaan borongan oleh warga sekitar tower yang harga satuan borongan melebihi dari batas normal harga pekerjaan.
  7. Hubungan pekerja dengan masyarakat sekitar yang tidak baik dan menyebabkan terancamnya jiwa pekerja.
  8. Instruksi penghentian kegiatan oleh otoritas pemerintah daerah
  9. Cuti/Libur/mogok pekerja yang lama akibat pemilu, lebaran, dll
  10. Ketidak seragaman harga satuan pekerjaan borongan untuk pemborong sehingga terjadi saling iri-mengiri (disparitas) diantara mereka, sehingga berhentinya pekerjaan borongan
  11. Manajemen yang tidak hati-hati menanggapi situasi kritis yang berkembang terhadap keamanan pekerja, pelanggaran adat/budaya masyarakat setempat
  12. Lokasi pemakaman disekitar tapak tower yang menyebabkan pemindahan makam, lokasi yang dianggap keramat oleh penduduk setempat sehingga perlu adanya acara yang bersifat kepercayaan.
  13. Izin lokasi ke Pemda setempat yang tidak terkoordinasi sehingga timbulnya gangguan berulang-ulang pada waktu pelaksanaan pekerjaan pada lokasi tertentu. Seperti izin yang berulang-ulang, ganti rugi kerusakan jalan yang berulang-ulang
  14. Hari-hari tertentu yang oleh warga dianggap keramat dan dilarang bekerja.
  15. Lokasi yang dianggap angker yang kadang-kadang tidak boleh dilalui. Perobahan lalu lintas transportasi material (dari yang dekat menjadi jauh)
  16. Force Mayor : tawuran/konflik dilokasi pekerjaan, aksi anarkisme yang mungkin bisa terjadi terhadap konstruksi yang telah ada

Isu teknis yang umum mengganggu kelancaran pekerjaan dilokasi

  1. Banjir, Cuaca:musim hujan yang terus menerus
  2. Kesulitan akses material, peralatan dan pekerja, seperti jauh, Lokasi terjal, licin, labil, curam, masih diperbaiki atau digunakan seperti (sawah, proyek jalan/rel), jembatan yang tidak sesuai dengan kapasitas angkut
  3. Material konstruksi yang sukar didapat / tidak tersedia/ terlambatnya pengiriman seperti air. Ketersedian resource pengganti/cadangan yang sukar didapat
  4. Kerusakan perlatan pada saat pemakaian dilokasi, yg membutuhkan perbaikan yg lama
  5. Sumber daya listrik yang kurang/tidak tersedia untuk pekerjaan yang membutuhkannya
  6. Alat komunikasi yang kurang/tidak tersedia untuk pengawasan pekerjaan
  7. Proteksi yang kurang/tidak ada di lokasi terutama yang dapat membahayakan pelaksanaan pekerjaan/pelaksana/konstruksi yang akan dibangun

Isu Manajemen yang menggangu pelaksanaan konstruksi:

  1. Schedule pembayaran ke subkontraktor yang belum dipenuhi.
  2. Desain konstruksi yang telat, Gambar kerja yang belum diapprove.
  3. Pengantian/pemindahan bagi tenaga kerja yang tidak pasti
  4. Schedule untuk pelaksanaan yang kurang matang, terutama mengenai jumlah dan mutu dari sumber daya –nya
  5. Penguasaan yang minim terhadap instruksi atau prosedur kerja sehingga adanya ke -kurangjelas –an sehingga terjadinya mis-interprestasi oleh pelaku dilapangan
  6. Antisipasi yang lambat bila terjadi penyimpangan terhadap pelaksanaan di lapangan, dan keterlambatan akibat kurang/tidak tersedianya data yang akurat untuk pelaporan pekerjaan dan pengawasannya

Posted Wednesday 13 July, 2011 by untungs in Project Management

Kalkulator Surveyor   5 comments

Penggunaan kalkulator banyak membantu seorang surveyor dalam pekerjaan pengukuran di lapangan. Ada beberapa jenis perhitungan yang dibutuhkan oleh seorang surveyor dalam bidang pekerjaan jalur transmisi, yaitu perhitungan POLYGON, TRANSFORMATION, dan SETTING-OUT.

Penulis telah mengembangkan program-program perhitungan tersebut dengan menggunakan bahasa JavaScript yang disimpan kedalam format HTML. File tersebut dapat di download, dan disimpan kedalam file komputer dan bisa dijalankan pada browser Internet Explorer, Mozilla Firefox atau Google Chrome, dan dapat juga file disimpan ke dalam Hand Phone atau Smart Phone yang mendukung HTML seperti pada HP Nokia dengan Symbian OS, atau merek lain yang mendukung format HTML (bukan XML atau XHTML). Pemakaian HP tentu beralasan dikarenakan barang yg satu ini jadi barang wajib yg selalu dibawa-bawa  untuk keperluan komunikasi saat ini. Untuk mengecek spesifikasi HP atau Ponsel sebaiknya kunjungi website ini.

1. Perhitungan Polygon

Perhitungan Polygon bertujuan untuk memperoleh koordinat (x,y) dari hasil bidikan (aim) instrumen pada suatu target, atau katakanlah pada posisi objek. Instrumen yang dimaksud adalah Total Station.

Sebagai contoh, bila posisi instrumen dengan koordinat (Xi,Yi) telah diketahui, dan diketahui pula koordinat belakang atau backsight yaitu (Xb,Yb), maka bila kita membidik posisi target/objek dengan jarak (distance) dan sudut (angle) dari posisi backsight maka kita akan mendapatkan koordinat target atau foresight yaitu (Xf,Yf).

Misalnya :

Posisi alat, Instrument koordinatnya (0 m,0 m) maka pada program dimasukkan Xi=0 dan Yi=0, selanjutnya instrument membidik patok belakang, Backsight yaitu dengan koordinat yang telah diketahui (-5m,5m), maka dimasukkan Xb=-5 dan Yb=5, kemudian alat tersebut dari posisi backsight yang telah dikunci berusaha membidik suatu objek dengan sudut 90,5 ° (searah jarum jam) dengan jarak yg diperleh alat sebesar 10 meter, setalah dimasukan Angle = 90,5° (atau 90° 30′ ) dan Distance = 10, diperoleh koordinat target (Xf,Yf) yaitu Xf = 7.132504491541816 meter dan Yf = 7.0090926429985085 meter.

Lihat ilustrasi berikut :

Untuk download program ini, klik disini POLYGON

2. Perhitungan Transformasi

Perhitungan ini bertujuan untuk memindahkan suatu titik objek yang koordinatnya telah diketahui, kesuatu titik yang berada tepat dalam suatu garis lurus secara tegak lurus. Dalam prakteknya kita berusaha menggeser suatu patok CP (center peg) yang tidak tepat pada jalur transmisi sehingga kembali pada jalur yang lurus.

Sebagai contoh, kordinat awal pada (9,1) dan koordinat akhir (1,9) yang bila dihubungkan akan membentuk satu garis yang lurus, bila terdapat koordinat yang berada diluar garis tersebut misalnya A (5,7) dan B(4,3), maka bila kita geser A dan B seara tegak lurus terhadap garis , diperoleh transfromasi titik A’ (4,6) dan B’(5.5,4.5).

Lihat ilustrasi berikut:

Untuk download program klik disini TRANSFORMATION

3. Perhitungan Setting-out

Perhitungan Setting-out adalah bertujuan untuk menempatkan suatu objek(misalnya patok) pada suatu koordinat (x,y) yang telah diketahui dari suatu perhitungan. Dari posisi Instrumen dan posisi Backsight yang telah kita kunci, maka kita dapat memutar Instrument sebesar suatu sudut dan sejauh jarak dari hasil perhitungan.

Sebagai contoh, bila Posisi Instrument pada koordinat (Xi,Yi), dan Posisi backsight dikunci yaitu (Xb,Yb), dan kita menginginkan untuk membuat suatu patok pada koordinat (Xf,Yf), maka kita harus membidik target pada sudut (Angle) dan jarak (distance) tertentu dari arah Backsight sehingga target berada diposisi (Xf,Yf) yang diinginkan.

Misalnya :

Posisi alat pada koordinat Xi=0, dan Yi=0, dan koordinat backsight yaitu patok belakang pada kordinat Xb=-5 dan Yb=5, diinginkan untuk menempatkan patok pada koordinat Xf= 7.132504491541816 dan Yf = 7.0090926429985085 berapa sudut dan jarak yang diperlukan sehinnga patok tepat berada pada posisi (Xf,Yf) tersebut.

Dengan memasukan data kordinat diatas kedalam program, kita harus memutar instrument dan membidik dengan Sudut (Aim angle) yang kita peroleh sebesar =90.5 ° dan sejauh Jarak (Distance) =10 meter dari posisi instrument.

Untuk download program ini, klik disini SETTING-OUT

Jika pembaca memperoleh kesalahan perhitungan, silahkan melaporkan kesalahan dalam comment di blog ini dengan contoh data perhitungan, supaya bisa dikoreksi.

Semoga bermanfaat.

Posted Friday 8 July, 2011 by untungs in Land Survey

Download ebook untuk teknik transmisi tenaga listrik   2 comments

Pengantar dasar dalam memahami tentang teknik transmisi listrik, terdapat sumber bacaan (dlm Bhs. Indonesia) pada link berikut :

1. Teknik Transmisi Tenaga Listrik, Jilid 1

2. Teknik Transmisi Tenaga Listrik, Jilid 2

3. Teknik Transmisi Tenaga Listrik, Jilid 3

Semoga bermanfaat.

Tambahan : Sebuah presentasi yang cukup baik yg diperoleh penulis dari sumber lain dapat di download disini.

Posted Thursday 23 June, 2011 by untungs in Download, Reference

Download ebook untuk pengantar teknik survei dan pemetaan dan alat serta teknik pengukuran   1 comment

Bagi yang masih awam dalam survey dan pemetaan , ada beberapa bahan bacaan (dalam Bhs. Indonesia) pada link berikut :

1. Teknik Survey dan Pemetaan, Jilid 1

2. Teknik Survey dan Pemetaan, Jilid 2

sebagai tambahan , dapat dibaca :

1. Alat Ukur dan Teknik Pengukuran , Jilid 1

2. Alat Ukur dan Teknik Pengukuran , Jilid 2

Semoga bermanfaat.

Posted Thursday 23 June, 2011 by untungs in Download, Land Survey

Wind Span, Weight Span & Equivalent (Ruling) Span   1 comment

Untuk menentukan wind span (bentangan angin) dan weight span (bentangan berat) dari tower yang kita tinjau (yang diapit oleh dua buah tower) dapat kita lihat ilustrasi berikut :

L1 dan L2 adalah jarak datar antara tower (span), kiri dan kanan. Satuan dalam meter.

a1 dan a2, adalah jarak antara tower (yang tengah) ke titik lendutan terendah atau titik berat konduktor sebelah kiri dan kanan tower. Satuan dalam meter.

maka :

wind span (wds) = (L1 + L2) / 2

weight span (wts) =a1 + a2

dan

Weight span to wind span ratio (R) = wts / wds.

Wind span berguna untuk mengitung gaya (Force) akibat beban angin horizontal pada konduktor.

Weight span berguna untuk menghitung berat konduktor pada struktur tower.

Weight to wind span ratio (R) berguna untuk menentukan apakah struktur tower terjadi uplift atau tidak. Nilai R berada dalam suatu rentang nilai tertentu dari hasil pengetesan, umumnya 0.7 – 1.3. Bila tower yang kita tinjau, semula adalah tower dengan tipe suspension (lurus), namun bila setelah digambar sagging curve dan kita hitung nilai R-nya berada diluar rentang nilai tersebut, maka tower terkena beban uplift sehingga tipe diganti menjadi tower tension (sudut) yang jenisnya didasarkan dari besar sudut belokannya.

Untuk menentukan equivalent span atau dikenal dengan ruling span , lihat ilustrasi berikut :

Equivalen span ditentukan berdasarkan span (bentang atau gawang) antara 2 buah tower tension (sudut), maka dari gambar diatas kita mencoba menghitung Equivalen span dengan rumus :

Es = √ ( Σ Li^3/Σ L1) atau

Es = √ ( L1^3 + L2^3 +….+L6^3 / L1 + L2 + … + L6) ..lihat gbr diatas.

Nilai Es dapat juga ditentukan berdasarkan suatu rumus pendekatan, tapi tidak kita bahas dlm blog ini, karena kita dapat menghitung secara real dengan rumus diatas.

Equivalen span ini berguna bila kita akan menggambar lendutan dengan memilih sagging template dengan equivalen span yang cocok.

Sebagai contoh kasus bila dari perhitungan kita memperoleh Es = 287.23 m, sedangkan sagging template yg kita telah buat hanya ada untuk equivalen span 250m, 300m, dan 350m saja. Maka untuk menggambar lendutan pada diagonal profile disarankan untuk menggunakan template dengan equivalen span 300 m, sehingga kita dapat memperkirakan safety clearance-nya.

(bersambung)

Posted Thursday 16 June, 2011 by untungs in Stringing Work

Metode Earned Value dalam kontrol progress proyek   2 comments

Sebagai seorang Project Manager (PM) selalu menggunakan perangkat kontrol dalam memantau kemajuan (progress) proyek. Alat kontrol itu bermacam-macam, yang  kesemua alat tersebut adalah agar PM dapat menganalisa untuk memastikan waktu, biaya, kualitas dalam keadaan terkendali. Ada yang menggunakan S-Curve, dan ada juga yang lebih kompleks seperti Earned Value Report.

Metode Earned VAlue mengukur kinerja (performace) terhadap sebuah rencana pada suatu titik diwaktu  tertentu (specific time). Keakuratannya tergantung pada variabel masukan dan kualitas terhadap rencana yang diukur.

Untuk lebih jelas tentang metode ini, mari kita lihat contoh berikut :

Direncanakan sebuah konstruksi pondasi tower (dengan 4 kaki yaitu A, B, C dan D). Setiap pekerjaan pondasi per  kaki tower dianggarkan sebesar 200 ribu rupiah dan direncanakan 1 kaki pondasi selesai dalam waktu sehari. Sehingga sebuah pondasi tower dijadwalkan selesai dalam waktu 4 hari dengan total biaya 800 ribu rupiah. Pada hari ketiga pelaksanaan,progress kerja dilaporkan :

Hari-1 : kaki (A) selesai dengan biaya yang dikeluarkan 200 ribu.

Hari-2 : Kaki B, dimulai tetapi belum selesai, biaya yg dikeluarkan 220 ribu

Hari-3 : Kaki B, selesai, dan Kaki C baru terlaksana separuhnya (50%), dan biaya yg dikeluarkan sebsar 140 ribu

Maka :

PV (Planned Value, Prakiraan biaya yang direncanakan untuk di selesaikan) adalah seharusnya 3 x Rp 200 ribu = Rp 600 ribu

EV(Earned Value, Prakiraan biaya pekerjaan yang seharusnya sesuai pekerjaan yang terlaksana), dikarenakan ada 2.5 kaki tower yang telah selesai sehinnga EV = 2.5 x Rp 200 ribu = Rp 200 ribu + Rp 200 ribu + Rp 100 ribu = Rp 500 ribu

AC (Actual Cost, Biaya yang telah dikeluarkan) adalah Rp 200 ribu + Rp 220 ribu + Rp 140 ribu = Rp 560 ribu

CV (Cost Variance atau selisih biaya , CV = EV-AC , bila CV bernilai negatif maka berindikasi pembengkakan biaya) , maka Rp 500 ribu – Rp 560 ribu = – Rp 60 ribu (pembengkakan biaya)

SV (Schedule Variance atau perbedaan jadwal, SV = EV – PV, bila SV bernila negatif maka berindikasi keterlambatan jadwal), sehinnga Rp 500 ribu – Rp 600 ribu = – Rp 100 ribu (keterlambatan rencana)

CPI(Cost Performance Index atau CPI = EV/AC, indikasi boros atau hematnya anggaran), maka Rp 500 ribu / Rp 560 ribu = 0.89

SPI(Schedule Performance Index atau SPI = EV/PV, untuk mengetahui indikasi maju mundurnya jadwal), maka Rp 500 ribu/Rp 600 ribu = 0.83

BAC(Budget At Completion, Jumlah anggaran kesluruhan proyek) sebesar Rp 800 ribu

EAC(Estimate At Completion, total biaya yang akan dikeluarkan untuk proyek atau EAC = BAC/CPI) sebesar Rp 800 ribu / 0.89 = Rp 899 ribu

ETC(Estimate To Complete, atau Berapa lagi biaya yg akan dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek?dimana ETC=EAC-AC) adalah sebesar Rp 899 ribu – Rp 560 ribu= Rp 339 ribu

VAC(Variance At Completion, atau Berapa kurang atau lebihnya yang akan terjadi dimana VAC=BAC-EAC) adalah sebesar Rp 800 ribu – Rp 899 ribu = – Rp 99 ribu

(bersambung)

Posted Wednesday 1 June, 2011 by untungs in Project Management

Change Order dalam proyek transmisi listrik   Leave a comment

Change order biasanya dikenal dengan istilah pekerjaan tambah kurang. Pekerjaan tambah kurang terkait adanya perubahan didalam rencana (kontrak) dengan aktual yang dikerjakan, seperti :

1. Perubahan dalam tower schedule,antara lain:
- panjang jaringan/jalur berubah (km.route jadi lebih panjang/pendek, yang bisa disebabkan oleh perubahan route/re-routing)
- jenis pondasi berubah (akibat revisi klas tanah dari hasil soil investigation)
- type tower (akibat perubahan sudut , kontur tanah, dan ketinggian tower dalam memenuhi safety clearance)
- jenis konduktor dan panjang penarikan (akibat dari kondisi lokasi dalam daerah polluted area dan perubahan panjang jalur TL)
- jenis insulator dan jumlah (akibat dari kondisi lokasi yg berada dalam jalur polluted area)
- asesoris material yang menyesuaikan dengan jenis konduktor dan insulator
- pemakaian jumlah pentanahan (akibat soil resistivity test)
- dll

2. Tambahan item pekerjaan yang tidak termasuk dalam lingkup pekerjaan (scope of work) dalam kontrak awal (misalnya pemakaian tie beam pada pondasi, permintaan akan adanya material sebagai sparepart atas permintaan owner, dll). Kesepakatan dalam penentuan harga harus didiskusikan terlebih dahulu sebelum pelaksanaannya dengan owner.

3. Item pekerjaan yang tidak perlu dilaksanakan dalam proyek tersebut (misalnya pengetesan pondasi yang tidak dibutuhkan, dismantling, dll) atas kesepakatan antara kontraktor dan owner.

Dalam kontrak bisa saja terdapat item pekerjaan yang bersifat lumpsum atau lot, kecermatan dan kehati-hatian dari kontraktor dapat melihat sub item pekerjaan apa saja yang disebutkan dalam dokumen kontrak, sehingga dapat dihindari kerugian item pekerjaan (waktu, biaya), diakibatkan adanya permintaan owner melebihi estimasi nilai pekerjaan semula.

Pada prakteknya, setiap perubahan tersebut harus didiskusikan terlebih dahulu dengan owner sehingga setiap keputusan perubahan bisa disetujui dan tertuang didalam kontrak dalam bentuk Addendum/Amandemen Pekerjaan Tambah Kurang, yang nantinya akan mempengaruhi nilai tagihan (invoice) kepada owner/klien.

Umumnya besar atau nilai pekerjaan tambah kurang itu dibatasi, sehingga tidak lebih/kurang dari 10% dari nilai kontrak proyek. Kalo lebih dari nilai itu, berkemungkinan akan timbuk kontrak kerja yang baru. Jika kurang, kayaknya dah resiko kali, tapi perlu negoisasi dengan owner, agar bila terdapat damapk kerugian, ada kompensasi yang mungkin akan didapatkan kontraktor.

Change Order terhadap pekerjaan perlu dicermati baik-baik. sebagai contoh, mungkin saja quantity pekerjaan bertambah, tetapi durasi pekerjaan menjadi lebih lama sehingga bila durasi proyek yang disepakati (dalam kontrak) tidak membolehkan hal tersebut, maka resource yang ada harus ditambah sedangkan bila terjadi pekerjaan kurang, mungkin saja berdampak pada pengurangan nilai perolehan (profit) yang direncanakan semula. Singkat kata, ada untung ruginya lho!

Posted Saturday 28 May, 2011 by untungs in About

Proses tender proyek jaringan transmisi   1 comment

Berikut proses tender yang pernah diikuti penulis, tahap demi tahap.

1. Informasi Tender, informasi pelelangan proyek TL diperoleh dari Pengumuman di koran, Pengumuman yang ditempel resmi di kantor calon klien, website e-proc, ataupun undangan langsung berupa surat/fax dari calon owner. Informasi biasanya menyebutkan nama proyek, persyaratan mengikuti tender, jangka waktu penawaran, pagu proyek, pemilik proyek, sumber dana, harga dokumen tender, periode pembelian dokumen, tempat pembelian dll.

2. Pembelian dokumen tender, dalam dokumen tersebut ada aturan main bagi peserta tender dan proses-proses tender, model tahapan tender, seperti apakah first stage bidding atau dual stage bidding. Aturan tender yang umum untuk internasional biasanya mengacu ke sistem FIDIC. Informasi lain seperti : tatacara pembayaran pekerjaan, spesifikasi teknik dan standar yang dipakai, format surat penawaran, sistem penjaminan (bid bond, security bond, performance bond,dll), data-data yg disyaratkan dan dilengkapi dalam mengajukan surat penawaran, dan ketentuan lainnya.

3. Penyampaian Dokumen Prakualifikasi (bila menganut dual stage bidding), isi dokumen yang umum diminta adalah dokumen-dokumen resmi perusahaan, Laporan keuangan, Pengalaman kerja, Data personil perusahaan, Sertifikasi Kualitas, Pakta Integritas, dll. Dokumen Penawarn ini disebut juga dengan Administartion Offer. Peserta yang masuk kulaifikasi persyaratan akan diumumkan pemilik kerja, dan diizinkan untuk mengikuti proses berikutnya.

4. Rapat penjelasan tender, di undang oleh pemilik pekerjaan untuk diskusi tanya jawab tentang kontrak dan pelaksanaan proyek seperti yang tertuang di dalam dokumen tender. Aspek Administrasi dan Teknis dapat ditanyakan kepada pemilik pekerjaan. Bisa juga rapat penjelasan dilakukan pada saat Site Visit (Aan wijzing), mengunjungi lokasi pekerjaan.

5. Pemasukan Harga Tender (bila menganut sistem dual stage bidding), penyampaian harga penawaran (Technical and Commercial Offer) dilakukan setelah masa tanya-jawab berkaitan dengan proyek ditutup. Penyampaian harga juga dilengakapi dengan bid bond dengan jumlah tertentu, sampai batas waktu tertentu.

6. Pengumuman hasil tender, setelah evaluasi harga oleh klien/owner, maka diumumkan kontraktor peserta tender yang menawarkan harga, jumlah penawaran, diskon penawaran oleh owner. Disini selalunya penawaran harga terendah dianggap sebagai calon pemenang tender. Nominasi pemenang biasa diurutkan sampai tiga calon kontraktor.

7. Penanda tanganan Letter of Intent/LOI (Surat penunjukan pemenang ) oleh Owner.

8. Proses CDA (Contract Discussion Agreement), diskusi tentang dokumen kontrak antara kedua belah pihak, jika disetujui maka dilanjutkan dengan

9. Penanda tanganan Kontrak (Contract Agreement Signing), sebagai dasar perintah kerja dari pemilik pekerjaan (klien/owner) kepada pelaksana pekerjaan (kontraktor). Dalam kontrak hanya mengikat dua pihak yang menandatangani perjanjian, yaitu klien/owner dan kontraktor dan tidak ada yang lainnya. Penanda tanganan kontrak biasanya juga bersamaan dengan Kick-off Meeting.

Kontraktor pelaksana dalam tender proyek bisa terdiri dari satu perusahaan ataupun gabungan beberapa perusahaan yang bekerjasama dalam bentuk KSO (Kerja Sama Operasi) atau Konsorsium. Perjanjian biasanaya dibuat dalam bentuk MoU (Memorandum of Understanding) yang memuat wewenang dan kewajiban perusahaan yang bergabung, syarat perjanjian, porsi kerja, masa berlaku MoU, tanda tangan personil wakil perusahaan, dll. Biasanya MoU disahkan oleh notaris.

Posted Saturday 28 May, 2011 by untungs in Project Management

Tentang Penulis   3 comments

Penulisan blog ini berdasarkan pengalaman dari penulis selama berkecimpung dibidang pelaksanaan proyek transmisi listrik sejak tahun 1995 sampai dengan sekarang. Ruang lingkup pekerjaan yang digeluti penulis adalah antara lain sebagai supervisor, surveyor, pelaksana, administrator, invoice preparation officer, drafter, estimator, project engineer, design engineer, pekerja serabutan sampai project manager pada sebuah perusahaan kontraktor BUMN. Dan kadang-kadang bertindak menjadi seorang CEO (tapi bukan chief executive officer melainkan chief entertainment officer alias tukang menjamu tamu, baik klien maupun konsultan, he he). Pengalaman proyek jaringan dimulai dari SUTT 150 kV, 275 k, dan sampai SUTET 500 kV yang tersebar di pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

Penulis mungkin dianggap narsis, sotoy, alay bin lebay, kekanak-kanakan.tapi yang jelas penulis cuek aja (EGP!). Pokoknya jika ada sesuatu yang menurut penulis pantas untuk di share seperti ilmu dan pengalaman (teori & praktek) akan diusahakan ditulis dalam blog ini. Penting gak penting, perlu gak perlu, percaya gak percaya yang penting penulis ingin menyampaikannya, yang terpenting lagi jika penulis lupa terhadap hal-hal tertentu terkait pekerjaan pada proyek TL, minimal ada arsip di web yang bisa membantu mengingatkan.

Pembaca yang bertanya dan  ingin tahu seluk beluk tentang pekerjaan pada proyek TL di blog ini, akan penulis usahakan untuk menjawabnya lewat fasilitas Comment dlm blog ini dengan catatan jika penulis tahu. Pembaca yang protes terhadap kehadiran blog ini dimohon bersabar, kritik dan saran selalu diterima, apalagi donasi hi hi. Dan pembaca yang banyak mengetahui dimohon untuk men-share tulisannya, untuk kemudian coba di post dalam blog ini. Dengan segala kekurangan yang ada penulis akan berusaha memuaskan pembaca (anda puas kami lemas!), dan bukan berusaha untuk “menggarami air laut” terutama kepada professional atau expert dalam bidang TL ini.

Sumber tulisan ini selain diperoleh dari pengalaman, banyak juga diperoleh dari buku-buku atau ebook, dokumen kontrak proyek, dan pengalaman teman-teman penulis, blog, tips and trick, dan informasi dari mulut kemulut (bergaul bok!), koran , jurnal , manual dan bukan dari mimpi atau khayalan semata.

Latar belakang pendidikan penulis yang resmi adalah “tukang ensinyur” dibidang sipil dari sebuah perguruan tinggi negeri di Pulau Sumatra. Dan penulis saat ini bertempat tinggal di Jakarta, dan mencari nafkah sebagai Engineering Manager untuk SBU (strategic bussines unit) Jasa Konstruksi di perusahaan kontraktor.

Posted Friday 27 May, 2011 by untungs in About

Estimasi biaya proyek TL   Leave a comment

Estimasi biaya proyek dipergunakan baik untuk kepentingan tender (bidding) berupa penawaran harga (price offer) kepada klien/owner, guna “memenangkan” suatu proyek. Dan juga diperlukan bagi seorang Project Manager dalam pelaksanaan proyek yaitu penetapan anggaran proyek (project budgeting) dan cash-flow schedule.

Dalam beberapa tender proyek TL seringkali diinformasikan besar nilai proyeknya oleh owner/klien yang dikenal sebagai owner estimation ataupun pagu proyek sebagai parameter berhasil tidaknya kontraktor dalam menawarkan harga pelaksanaanya, Dari sisi owner tentu saja mengharapkan bahwa nilai penawaran kontraktor berada dibawah pagu (lebih murah dari prakiraan). Bila penawaran jauh dibawah pagu selalunya akan menjadi pertanyaan terhadap kontraktor pelaksana, mungkin saja kontraktor mempunyai source material yang lebih murah tetapi berkualitas, metode kerja yang handal, teknologi yang canggih yang akan dipergunakan dll, ataupun salah hitung , salah asumsi ataupun nekat dengan memberikan diskon gede he he…..

(bersambung)

Posted Friday 27 May, 2011 by untungs in Project Management

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.