Penggunaan Kertas Gambar   Leave a comment


Hasil desain untuk kepentingan konstruksi dan dokumentasi arsip, baik sebagai gambar kerja/pelaksanaan (workshop drawing) ataupun gambar hasil yang sesuai dengan aktual seperti yang dilaksanakan (As-built Drawing) biasanya dibuat kedalam bentuk file komputer (Softcopy) dan kertas cetakan (Hardcopy), gambar kerja ini biasanya dibuat diatas kertas kalkir dan diperbanyak kedalam bentuk blueprint dari mesin cetaknya (kayaknya gak jaman lagi cara manual kayak ginian, Capeee deh!).

Urusan “Gemar Menggambar” untuk pekerjaan desain, biasanya dipercayakan kepada tukang gambar alias Drafter alias Draftman(Draughtsman), yang biasanya jago AutoCAD(menggambar dikomputer dengan bantuan drawing software AUTOCAD), dengan menginterprestasikan gambar dari Engineer sesuai dengan tatacara penggambaran untuk konstruksi. Gambar kerja untuk proyek TL (transmission line) seringkali dibuat kedalam ukuran kertas Gambar A1, hasil gambar dari program AutoCAD disimpan kedalam format berekstensi DWG, dan untuk kepentingan lainnya, DWG diprint (dikonversikan) ke file dengan format PDF untuk dicetak ke percetakan yang memiliki minimal plotter (wide printer) ukuran A1. Dan selanjutnya hasil cetakan ke plotter diperbanyak melalui mesin photocopy untuk kepentingan distribusi gambar ke pelaksana pekerjaan (pemborong) dan supervisi (supervisor) atau untuk kepentingan persetujuan (approval) ke klien/konsultan.

Tips : Biasanya gambar dicetak melalui plotter dan diperbanyak dengan cara memfotokopi, cara ini lebih hemat karena harga cetaknya jauh lebih murah. Perlu diperhatikan, gambar hasil plotter bisa colourfull (bewarna) dan hasil fotokopi-an yang umumnya hanya hitam putih.

Aspek lainnya dalam urusan cetak mencetak ini, biasanya skala gambar hasil fotokopi dengan hasil plotter memiliki deviasi (penyimpangan) ukuran, dan selalunya hasil fotokopi lebih besar 1-5 mm, jangan kaget, hal ini dimungkinkan karena mesin fotokopi mengeluarkan panas (heat) pada kertasnya.

Jika kita bekerja pada kertas seperti mengecek ukuran pada gambar hasil survey lapangan dengan penggaris berskala, maka kita HANYA menggunakan gambar hasil cetakan plotter saja dikarenkan skalanya lebih presisi.

Gambar konstruksi biasanya cukup dalam penggambaran 2D (dua dimensi).

Standarisasi kertas dipakai adalah mengacu sesuai dengan ISO 216, dimana rasio ukuran kertas berpegang pada prinsip bahwa tinggi(panjang) dibagi lebar adalah  √2 = 1.4142 , dan untuk kertas ukuran A0 ,luas kertas adalah 1 m2.

Untuk urusan copy-mnegcopy melalui mesin fotokopi, sebagai panduan pembesaran (magnification factor) dari kertas, panduannya lihat tabel ya.

Kertas-kertas gambar kerja ukuran A1 ini biasa disimpan (binding) kedalam folder. Folder/binder biasanya berukuran Folio atau Kwarto. Dan biasanya pada tengah tepi kiri kertas gambar  diberikan 2 buah bolongan dengan alat punch (alat pembolong kertas).

Karena ukuran kertas gambar yang besar apabila dimasukkan kedalam folder, maka kertas tersebut dilipat, dan biasanya kertas A1 tersebut dilipat keukuran kertas A4. Cara melipat (mungkin bisa disebut origami, he he) ini bukanlah hal yang sepele, karena suatu saat gambar tersebut dibuka lebar-lebar tanpa melepaskan gambar tersebut dari folder -nya, ada aturan yang biasa dipakai oleh juru lipat alias folding engineer (he he..), kami menggunakan Standar DIN 824 (lihat gambar)

Nah, selamat melipat!!

Posted Wednesday 18 May, 2011 by Fellow in Land Survey

Berikan komentar atau pesan anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: