Change Order dalam proyek transmisi listrik   Leave a comment


Change order biasanya dikenal dengan istilah pekerjaan tambah kurang. Pekerjaan tambah kurang terkait adanya perubahan didalam rencana (kontrak) dengan aktual yang dikerjakan, seperti :

1. Perubahan dalam tower schedule,antara lain:
– panjang jaringan/jalur berubah (km.route jadi lebih panjang/pendek, yang bisa disebabkan oleh perubahan route/re-routing)
– jenis pondasi berubah (akibat revisi klas tanah dari hasil soil investigation)
– type tower (akibat perubahan sudut , kontur tanah, dan ketinggian tower dalam memenuhi safety clearance)
– jenis konduktor dan panjang penarikan (akibat dari kondisi lokasi dalam daerah polluted area dan perubahan panjang jalur TL)
– jenis insulator dan jumlah (akibat dari kondisi lokasi yg berada dalam jalur polluted area)
– asesoris material yang menyesuaikan dengan jenis konduktor dan insulator
– pemakaian jumlah pentanahan (akibat soil resistivity test)
– dll

2. Tambahan item pekerjaan yang tidak termasuk dalam lingkup pekerjaan (scope of work) dalam kontrak awal (misalnya pemakaian tie beam pada pondasi, permintaan akan adanya material sebagai sparepart atas permintaan owner, dll). Kesepakatan dalam penentuan harga harus didiskusikan terlebih dahulu sebelum pelaksanaannya dengan owner.

3. Item pekerjaan yang tidak perlu dilaksanakan dalam proyek tersebut (misalnya pengetesan pondasi yang tidak dibutuhkan, dismantling, dll) atas kesepakatan antara kontraktor dan owner.

Dalam kontrak bisa saja terdapat item pekerjaan yang bersifat lumpsum atau lot, kecermatan dan kehati-hatian dari kontraktor dapat melihat sub item pekerjaan apa saja yang disebutkan dalam dokumen kontrak, sehingga dapat dihindari kerugian item pekerjaan (waktu, biaya), diakibatkan adanya permintaan owner melebihi estimasi nilai pekerjaan semula.

Pada prakteknya, setiap perubahan tersebut harus didiskusikan terlebih dahulu dengan owner sehingga setiap keputusan perubahan bisa disetujui dan tertuang didalam kontrak dalam bentuk Addendum/Amandemen Pekerjaan Tambah Kurang, yang nantinya akan mempengaruhi nilai tagihan (invoice) kepada owner/klien.

Umumnya besar atau nilai pekerjaan tambah kurang itu dibatasi, sehingga tidak lebih/kurang dari 10% dari nilai kontrak proyek. Kalo lebih dari nilai itu, berkemungkinan akan timbuk kontrak kerja yang baru. Jika kurang, kayaknya dah resiko kali, tapi perlu negoisasi dengan owner, agar bila terdapat damapk kerugian, ada kompensasi yang mungkin akan didapatkan kontraktor.

Change Order terhadap pekerjaan perlu dicermati baik-baik. sebagai contoh, mungkin saja quantity pekerjaan bertambah, tetapi durasi pekerjaan menjadi lebih lama sehingga bila durasi proyek yang disepakati (dalam kontrak) tidak membolehkan hal tersebut, maka resource yang ada harus ditambah sedangkan bila terjadi pekerjaan kurang, mungkin saja berdampak pada pengurangan nilai perolehan (profit) yang direncanakan semula. Singkat kata, ada untung ruginya lho!

Posted Saturday 28 May, 2011 by Fellow in About

Berikan komentar atau pesan anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: